Cara Budidaya Bawang Merah agar Tahan Hama

Salah satu peluang usaha yang menjanjikan adalah bawang merah. Berarti kamu harus mempraktikkan cara budidaya bawang merah dengan baik dan benar. Apalagi, jika berhasil budidaya bawang merah tahan hama, maka akan memiliki harga jual yang optimal.

Pasalnya, tanaman dengan nama latin Allium Ascalonium ini kerap dipakai sebagai bumbu dapur sejak turun temurun. Selain itu, harga jual bawang merah juga tergolong stabil, meskipun kerap naik di hari-hari besar seperti hari raya atau akhir tahun.

Mengenal Varietas untuk Cara Budidaya Bawang Merah

Cara Budidaya Bawang Merah dengan Benar dan Anti Hama

Di Indonesia, terdapat banyak varietas bawang merah. Setiap varietas memiliki ciri yang berbeda, seperti bentuk, ukuran, warna, dan lain-lain.

Beberapa varietas juga lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Bawang merah pada umumnya dinamai sesuai asal varietas tersebut.

Pada akhirnya, kamu harus memilih varietas tertentu sebelum budidaya.

1. Bawang Merah Bima Brebes

Masa panen varietas Bima Brebes adalah 60 hari. Varietas ini mampu memproduksi 10 ton umbi basah dalam 1 hektar. Varietas juga tahan terhadap penyakit busuk yang kerap menyerang umbi tanaman.

Bima Brebes  memiliki umbi berbentuk lonjong, bercincin kecil di leher cakram, dan berwarna merah muda.

2. Bawang Merah Medan

Bawang merah Medan memiliki usia panen yang lebih lama, yakni 70 hari. Dalam 1 hektar, varietas menghasilkan 7 ton umbi basah. Meski demikian, varietas tahan terhadap penyakit umbi busuk.

Umbi varietas ini tampak memiliki bentuk bulat dengan ujung yang runcing dan berwarna merah.

3. Bawang Merah Keling

Cara budidaya bawang merah berikutnya dengan varietas Keling. Varietas ini berasal dari Majalengka dan menawarkan panen di usia 70 hari. Dalam 1 hektar, petani dapat memanen 8 ton umbi basah.

Sebenarnya, varietas Keling cocok ditanam di dataran rendah, sebab tahan terhadap penyakit umbi busuk.

Kamu juga dapat mengenal varietas ini dari ciri-ciri umbinya, yakni berbentuk bulat gepeng dan berwarna merah muda.

4. Bawang Merah Ampenan

Bawang merah Ampenan berasal dari Bali. Masa panennya membutuhkan waktu 70 hari. Akan tetapi, varietas mampu menghasilkan bawang merah basah sebesar 9 sampai 12 ton dalam 1 hektar.

Pada dasarnya, varietas Ampenan cocok ditanam pada musim kemarau, meskipun tahan terhadap penyakit umbi busuk.

Jika diamati, umbinya berbentuk lonjong dengan warna merah muda.

5. Bawang Merah Impor

Selain bawang merah lokal, juga terdapat bawang merah impor dari Australia, Filipina, dan Thailand. Apabila dibandingkan dengan bawang merah varietas lokal, bawang merah impor cenderung memiliki kualitas yang lebih unggul.

Akan tetapi, bawang merah impor harus dibudidayakan dengan hati-hati, sebab masih membutuhkan penyesuaian dengan iklim di Indonesia.

Dalam 1 hektar, bawang merah varietas ini mampu memproduksi bawang merah basah sebanyak 15 ton.

Pahami Cara Budidaya Bawang Merah

Bawang merah tergolong tanaman semusim atau berumur pendek. Tanaman ini dibudidayakan secara generatif dengan biji atau vegetatif melalui umbi.

Sebenarnya, bawang merah tergolong tanaman yang mudah dibudidayakan, khususnya melalui tahap mengolah tanah, memilih bibit, menanam umbi, memberi nutrisi, penyiraman, pengendalian hama, hingga memasuki tahap panen.

Setiap tahap membutuhkan perhatian secara khusus. Tujuannya agar bawang dapat tumbuh dengan optimal.

1. Mengolah Tanah Secara Terstruktur

Cara budidaya bawang merah yang pertama adalah mengolah tanah. Tanah diolah guna meningkatkan kesuburan dan aerasi.

Sebagai nasehat, disarankan membajak dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Lantas, tabur  Trichoderma, Gliocladium, dan pupuk kandang. Hal ini sebaiknya dilakukan seminggu sebelum proses penanaman.

Guna mengurangi risiko hama, buat bedengan selebar 75 sentimeter dengan tinggi 30 sentimeter. Kamu pun harus memasang mulsa plastik guna menjaga kelembaban media sekaligus mencegah tumbuhnya gulma.

2. Memilih Bibit dengan Kualitas Terbaik

Cara budidaya bawang merah berikutnya dengan memilih bibit kualitas terbaik. Bibit bawang merah tidak sama dengan tanaman lainnya, pasalnya bawang merah tergolong sebagai umbi lapis. Dengan demikian, bibit tanaman ini berbentuk umbi.

Umbi merupakan hasil perbanyakan bawang merah dari benih.

Pada umumnya, bibit yang memiliki kualitas terbaik memiliki warna mengkilap. Selain itu, bibit juga terlihat utuh atau tidak mengalami kerusakan.

Berat juga dapat memengaruhi kualitas bibit, di mana bibit terbaik memiliki berat 3 sampai 4 gram saja.

Nah, setelah menemukan bibit sesuai kriteria, rendam di dalam hormon organik selama 10 menit.

Kemudian, agar bibit tidak mudah terserang hama dan penyakit, jangan lupa menabur Trichoderma dan Gliocladium yang dibeli di toko pertanian.

3. Tanam Umbi di Kedalaman yang Dangkal

Cara budidaya bawang merah setelah memilih umbi kualitas terbaik adalah menanamnya di lahan pertanian.

Untuk memudahkan pekerjaan, sebaiknya basahi tanah untuk membuat lubang.  Buat jarak 15 sampai 20 sentimeter. Umbi tidak perlu ditanam terlalu dalam, melainkan sekadar tertutup memakai tanah.

4. Memberikan Nutrisi dengan Memerhatikan Usia Tanaman

Petani harus memantau pertumbuhan bawang merah setiap hari. Di hari ke-7, POC GDM bisa kamu berikan dengan takaran tertentu. Tujuannya untuk penambah nutrisi tanaman.

Setiap tangki dapat diisi 2 gelas POC GDM. Penyemprotan dapat dilakukan 2 kali sehari, yakni setiap pagi dan sore hari.

Nah, jika kamu ingin memberi pupuk anorganik, sebaiknya pastikan bawang merah memasuki usia 10, 20, atau 35 hari.

Akan tetapi, tidak semua petani memberi pupuk anorganik. Pasalnya, bawang merah organik memiliki harga jual yang lebih tinggi. Namun, hal ini tetap memiliki kekurangan, di mana bawang merah membutuhkan perawatan secara ekstra.

5. Penyiraman Secara Teratur

Pada umumnya, bawang merah perlu air siram sebanyak 2 kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.

Sedangkan, di hari berembun atau hujan, kamu lebih baik menyiram atau membasuh bagian tanaman dengan air bersih. Tujuannya agar bawang merah tidak mudah terserang penyakit.

6. Mengendalikan Hama dan Penyakit

Cara budidaya bawang merah yang optimal harus memerhatikan hama dan penyakit.

Biasanya, petani memilih pestisida kimia untuk menghindari hal ini. Padahal, kamu bisa memakai cara-cara alami.

Misalnya menyiram tanaman memakai air bersih setelah hujan atau mengaplikasikan fungisida alami untuk mengurangi risiko hama.

7. Cara Panen dan Menyimpan Bawang Merah

Bawang merah memasuki masa panen di hari ke-70 atau 80. Ciri-cirinya umbi menyembul ke permukaan. Selain umbi, bawang merah juga memiliki daun yang merebah.

Cukup cabut tanaman secara langsung. Kemudian, bersihkan tanaman dari tanah atau kotoran yang menempel. Untuk memperkecil risiko pembusukan, sebaiknya jemur tanaman di bawah sinar matahari.

Cara lainnya, kamu dapat menggantung bawang merah dengan keranjang agar air menetes secara otomatis. Hal ini juga berlaku untuk cara penyimpanan bawang merah.

Pasalnya, penyimpanan seperti ini mampu memperpanjang usia bawang karena mengurangi kelembaban.

Demikian  tahap-tahap yang sebaiknya kamu perhatikan. Cara budidaya bawang merah juga dapat kamu lakukan di dalam pot, polybag, atau hidroponik.

 

Jangan lupa kunjungi juga katalog produk kami atau dapat temukan rekomendasi produk dari kami.

Kabar Tani Lainnya

Bibit Cabe Rawit Unggul Tahan Penyakit Hasilnya Berkualitas!

Cabe rawit banyak digunakan untuk membuat sambal atau menemani grengan. Budidaya cabe ini tidaklah sulit. Siapa saja bisa melakukannya, apalagi menggunakan bibit cabe rawit...